• Pengunjung

    Online Nutrition Degree - Courses & Training
    Google bot last visit powered by Bots Visit
  • Peringatan & Etika

  • Barner Kampanye

    STOP GLOBAL WARMING

    KATAKAN TIDAK pada KoRUpsi Nah mu coba2, monyet aja gak brani

    Indonesia, Kenali, Cintai

    Perspektif Bung Wimar


    Masukkan Code ini K1-95236F-B
    untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com
    • RSS Lintas Berita - Terpilih

    • RSS Info Gue - Terbaik

      • Ini Dia 10 Website Paling HOT Tahun Ini
        Setelah Facebook yang begitu fenomenal, whats the next?Jawabannya saya temukan dalam Majalah PC World edisi April 2009. Mark Sullivan, Senior Associate Editor majalah tersebut, menulis 10 website yang akan bersinar tahun 2009 ini. Dia memprediksi kesepuluh website tersebut akan menjadi penantang ...
      • Setiap Orang Punya $86.400 Setiap Hari !
        Seandainya Anda mendapatkan uang tiap hari sebesar US $ 86.400 yg harus dihabiskan tiap hari dgn tanpa sisa satu cent pun juga, karena sisa uang yg tak terpakai akan di hapus sehingga tidak bisa ditabung ataupun dibawa ke hari esok. Pasti Anda akan manfaatkan uang itu sebaik mungkin. Kalau tidak ...
      • SAKSI SEJARAH ATAS KEPUNAHAN DINOSAURUS, KOMODO DRAGON
        Komodo adalah reptil darat terbesar di dunia. Hewan ini termasuk hewan yang terancam punah karena hewan ini merupakan hewan endemik. Endemik berarti, hewan ini hanya hidup di wilayah tertentu. Komodo hanya hidup di sebuah pulau yang bernama Pulau Komodo, Indonesia.Komodo termasuk jenis hewan ...
      • Mengikut Laporan Serangan Udara Israel, Mesir Perketat Perbatasan Maret 28, 2009
        Mesir segera mengirimkan pasukan tambahannya ke perbatasan dekat Sudan dalam upaya untuk mencegah penyelundupan senjata ke jalur Gaza, sebuah harian Israel melaporkan pada Jumat kemarin.
      • Pasukan Tambahan dan Strategi Baru Obama Hadapi al-Qaidah Maret 27, 2009
        Para pejabat di lingkungan pemerintahan AS mengatakan, pemerintahan Obama meyakini bahwa para pimpinan al-Qaida masih ada di lokasi-lokasi tersembunyi di negara tetangga Afghanistan, Pakistan. Para pemimpin al-Qaidah itu dituding sedang menyiapkan serangan baru ke AS dan para sekutunya.
      • Israel Lakukan Serangan di Sudan Maret 27, 2009
        Kecurigaan bahwa Israel adalah pelaku serangan konvoi kendaraan di Sudan makin kuat, setelah awal bulan Maret kemarin Olmert mengatakan pada kabinetnya bahwa Israel telah melakukan "sejumlah operasi rahasia yang penting" selama masa pemerintahannya. Para pakar militer meyakini, serangan-serangan itu salah satunya besar kemungkinan adalah serangan I […]
      • Muslim Bulgaria : Wajah Sebuah Penindasan Agama Maret 27, 2009
        Muslim Bulgaria tengah menghadapi penindasan agama, meskipun Bulgaria masuk di dalam Uni Eropa pada 1januari 2007 yang lalu, telah menjanjikan kaum muslimin Bulgaria akan lebih banyak mendapatkan kebebasan dan hak-hak kewarganegaraan.
      • Ledakan Bom di Afghanistan Timur Tewaskan 7 Warga Sipil Maret 27, 2009
        Satu unit mobil kombi dan 7 warga sipil tewas akibat ledakan bom di Provinsi Khost, Afghanistan Timur, Rabu kemarin (25/3). Ledakan ini terjadi setelah Obama menyatakan akan mengumumkan penerapan strategi baru di Afghanistan pada Jumat depan, dalam rangka memerangi terorisme.
      • Strategi Baru Anti-Teror Inggris Sudutkan Muslim Maret 26, 2009
        Sejumlah pimpinan masyarakat Muslim Inggris menilai strategi itu sebagai upaya untuk memperluas pengawasan terhadap warga Muslim. "Strategi baru itu anti-Muslim dan membahayakan kebebasan sipil," tukas Qureshi.
    • RSS how stuff works

      • Can I eat anything I want as long as I drink red wine?
        A study published recently in the online version of the journal Nature has been called the "Holy Grail of aging research." Find out if obese humans should switch from white wine to red wine."
      • What kind of yard never needs mowing?
        Did you know that the fob that you carry on your keychain or use to open the garage door is actually a small radio transmitter? Find out how the original 1950s fobs evolved from single-code transmitters to the high-tech security devices they are today.
      • Today's Video - Chocolate for your Heart
        Watch this video about the health benefits of chocolate on HowStuffWorks. Chocolate plays a role in the composition of blood so that it's less likely to clump together and form blockages in the heart.
      • 10 of the Biggest Lies in History
        You don't look fat in those pants. I didn't copy off his paper. She's a natural blonde. I am not a crook. Lots of us lie, but what are the biggest fibs ever?
      • How Aerodynamics Work
        Most people never think about driving through a wall. But you do it every time you drive -- except the wall is made of air, and your car's aerodynamics help you break through it.
  • Sejarah Cirebon

    Asal kota Cirebon ialah pada abad ke 14 di pantai utara Jawa Barat ada desa nelayan kecil yang bernama Muara Jati yang terletak di lereng bukit Amparan Jati. Muara Jati adalah pelabuhan nelayan kecil. Penguasa kerajaan Galuh yang ibu kotanya Rajagaluh menempatkan seorang sebagai pengurus pelabuhan atau syahbandar Ki Gedeng Tapa. Pelabuhan Muara Jati banyak di singgahi kapal-kapal dagang dari luar di antaranya kapal Cina yang datang untuk berniaga dengan penduduk setempat, yang di perdagangkannya adalah garam, hasil pertanian dan terasi.

    Kemudian Ki Gendeng Alang-alang mendirikan sebuah pemukiman di lemahwungkuk yang letaknya kurang lebih 5 km, ke arah Selatan dari Muara Jati. Karena banyak saudagar dan pedangan asing juga dari daerah-daer5ah lain yang bermukim dan menetap maka daerah itu di namakan Caruban yang berarti campuran kemudian berganti Cerbon kemudian menjadi Cirebon hingga sekarang.

    Raja Pajajaran Prabu Siliwanggi mengangkat Ki Gede Alang-alang sebagai kepala pemukiman baru ini dengan gelar Kuwu Cerbon. Daerahnya yang ada di bawah pengawasan Kuwu itu dibatasi oleh Kali Cipamali di sebelah Timur, Cigugur (Kuningan) di sebelah Selatan, pengunungan Kromong di sebelah Barat dan Junti (Indramayu) di sebelah Utara.

    Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat kemudian digantikan oleh menantunya yang bernama Walangsungsang putra Prabu Siliwanggi dari Pajajaran. Walangsungsang ditunjuk dan diangkat sebagai Adipati Carbon dengan gelar Cakrabumi. Kewajibannya adalah membawa upeti kepada Raja di ibukota Rajagaluh yang berbentuk hasil bumi, akan tetapi setelah merasa kuat meniadakan pengiriman upeti, akibatnya Raja mengirim bala tentara, tetapi Cakrabumi berhasil mempertahankannya.

    Kemudian Cakrabumi memproklamasikan kemerdekaannya dan mendirikan kerajaan Cirebon dengan mamakai gelar Cakrabuana. Karena Cakrabuana telah memeluk agama Islam dan pemerintahannya telah menandai mulainya kerajaan kerajaan Islam Cirebon, tetapi masih tetap ada hubungan dengan kerajaan Hindu Pajajaran.

    Semenjak itu pelabuhan kecil Muara Jati menjadi besar, karena bertambahnya lalu lintas dari dan ke arah pedalaman, menjual hasil setempat sejauh daerah pedalaman Asia Tengara. Dari sinilah awal berangkat nama Cirebon hingga menjadi kota besar sampai sekarang ini.

    Pangeran Cakra Buana kemudian membangun Keraton Pakungwati sekitar Tahun 1430 M, yang letaknya sekarang di dalam Komplek Keraton Kasepuhan Cirebon.(mengenal kasultanan kasepuhan cirebon)

    Tiga Keraton
    Cirebon, Sebuah Porselen Retak
     


    Pengantar:

    Libur Lebaran lumayan panjang. Tak ingin menyia-nyiakan waktu selama
    itu untuk berdiam diri di rumah, kami pun merencanakan perjalanan ke
    salah satu kota di pulau Jawa. Cirebon, itu pilihan kami. Kota ini
    menjadi kota transit bagi para pemudik yang ingin bersilaturahmi ke
    kampung halaman di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun, bukan
    itu alasan kami memilih kota ini sebagai tujuan perjalanan. Kota
    yang terletak di jalur pantai utara ini menyimpan banyak objek
    wisata, terutama karena peninggalan-peninggalan fisik sejarah masa
    lalu.
    Cirebon bukan sekadar nama tanpa sejarah. Konon, Cirebon berasal
    dari Caruban atau tempat pertemuan atau persimpangan jalan. Ada juga
    yang meyakini nama itu berasal dari kata carub dalam bahasa Jawa
    yang berarti campuran. Bentuk “caruban” ini oleh Tome Pires dicatat
    sebagai Choroboarn. Ada kemungkinan terpengaruh bahasa Sunda yang
    berawalan Ci (berarti air atau aliran sungai), kota ini pun lama
    kelamaan disebut Cirebon—atau kalau mau diartikan sungai yang
    mengandung banyak udang (rebon berarti udang kecil). Ini bisa
    dilihat dari oleh-oleh khas kota ini yang kebanyakan berasal dari
    olahan udang.
    Pengalaman perjalanan tim ”SH”—yang terdiri dari Bayu Dwi Mardana,
    Desman, Ida Rosdalina, Job Palar—ke kota rebon ini terangkum dalam
    tiga halaman berikut.

    CIREBON — Pemerintah Hindia Belanda pusing. Niat mereka untuk
    berkuasa sepenuhnya di tanah Cirebon selalu saja mentok karena
    tentangan dari Pangeran Raja Kanoman, putra Sultan Anom IV yang
    bertahta di Keraton Kanoman pada tahun 1803.

    Di saat yang sama di negeri Belanda nun jauh di seberang lautan,
    kekuasaan sedang beralih. Negeri Belanda diduduki Prancis dengan
    panglima perangnya, Napoleon. Maksud hati ingin berkuasa mutlak di
    kota pelabuhan penting bernama Cirebon, pemerintah Hindia Belanda
    malah kehilangan basis kekuasaannya sendiri.
    Namun, rencana tetap dilakukan. Toh, Deandels sebagai penguasa baru
    utusan Prancis tidak mengganti seluruh pejabat Belanda di negeri
    ini.
    Setelah sang Sultan Anom IV, penguasa Keraton Kanoman wafat, Belanda
    mulai melancarkan siasat busuk yang selalu saja mengena diterapkan
    di tanah jajahan termasuk di Jawa ini, devide et impera.
    Seharusnya tahta segera diisi oleh sang putra mahkota, Pangeran Raja
    Kanoman. Namun, sebagai ”penguasa sesungguhnya” tentu saja Belanda
    tak ingin Pangeran Raja Kanoman yang naik tahta. Belanda malah
    melantik putra Sultan Anom IV yang lain, Abu Sholeh Imaduddin,
    sebagai Sultan Anom V.
    Kerajaan pun geger dan rakyat terpecah. Rakyat jelas lebih mendukung
    Pangeran Raja Kanoman sebagai sultan mereka yang sah. Pangeran pun
    daripada terkukung di dalam keraton lebih baik keluar dari
    lingkungan Keraton Kanoman dan bergabung dengan para pemberontak.
    Keadaan malah makin memanas. Tak ada jalan lain Pangeran Raja
    Kanoman harus ditangkap. Belanda pun menangkapnya dan membawa sang
    pangeran ke Batavia. Batavia dekat dengan Banten, Banten adalah
    sekutu ”sedarah” dengan Cirebon. Tentu saja, perlawanan membebaskan
    Pengeran ini terjadi di Batavia. Keadaan makin ricuh, rakyat sudah
    kehilangan simpati pada Sultan ”boneka” buatan Belanda alias Sultan
    Anom V.
    Dibuanglah Pangeran ke Ambon. Harapannya, jika pangeran nan
    flamboyan ini dibuang jauh dari tanah Jawa, maka rakyat akan merasa
    kehilangan target untuk diperjuangkan dan daya juang pun menurun.

    Lagi-lagi Belanda salah. Perang malah makin tak terkendali.
    Pemerintah Hindia Belanda makin kewalahan menghadapi perlawanan
    ”para pemberontak”.
    Deandels tentu kesal dengan kebijakan ”para anak buahnya” ini.
    Kebijakan dikeluarkan. Pangeran Raja Kanoman harus dibawa kembali ke
    sini, Cirebon. Gubernur Laut Timur Jawa Engelhard pun pada tanggal 1
    Januari 1808 diperintahkan untuk menjemput Pangeran Raja Kanoman di
    Ambon.
    Sementara di Cirebon sendiri, keraton baru disiapkan pemerintah
    Hindia Belanda sebagai tempat Pangeran Anom bertahta. Pada 13 Maret
    1808, Pangeran Raja Kanoman diangkat menjadi Sultan Carbon
    Kacirebonan. Rakyat pun mengelu-elukan Sultan baru ini. Cirebon pun
    akhirnya resmi memiliki tiga keraton, Kasepuhan, Kanoman, dan
    Kacirebonan.
    Jangan dikira pengangkatan ini sesuatu yang ikhlas. Segala aturan
    dibuat Deandels khusus untuk Kasultanan Kacirebonan. Reglement
    dikeluarkan untuk mengatur hak dan kekuasaan kesultanan baru ini
    sehingga kesultanan baru itu hanyalah ”hiasan” belaka. Intinya
    kekuasaan politik sang Sultan, termasuk Sultan di Keraton Kasepuhan
    dan Kanoman, dihapus. Mereka hanyalah pegawai pemerintah biasa dan
    diberi gaji.
    Namun, hawa perlawanan tak juga surut. Sultan Carbon tetap berjuang
    walau hanya dengan mengawasi perjuangan yang dilakukan rakyat. Wujud
    pemberontakan Sultan Carbon adalah ia tidak mau menerima gaji dari
    pemerintah Hindia Belanda sampai akhir hayatnya.
    Pemerintah penjajah tak mau kehilangan muka. Status Sultan Carbon
    Kacirebonan tak ada lagi untuk penerus tahta. Statusnya diturunkan
    menjadi Raja Madenda. Gelar ini kalah gengsi dengan dua kesultanan
    yang lain, Kasepuhan dan Kanoman.

    Suram
    Gengsi yang hilang ini pun berbekas sampai saat ini. Jika Anda yang
    bukan warga Cirebon lewat di Jalan Pulasaren, barangkali Anda tak
    akan menyangka sedang melewati sebuah keraton bernama Kacirebonan.
    Dikelilingi tembok putih yang lusuh setinggi sekitar 1,5 meter,
    bangunan bernama Keraton Kacirebonan terlihat kusam dan tak terawat.
    Bangunannya memang bukan bangunan kuno ala keraton raja-raja Jawa,
    tetapi bangunan Eropa ala arsitektur Belanda.
    Ciri ketiga keraton di Cirebon sangatlah jelas. Ciri pertama,
    bangunan keraton selalu menghadap ke utara. Di sebelah timur keraton
    selalu ada masjid. Setiap keraton selalu menyediakan alun-alun
    sebagai tempat rakyat berkumpul dan pasar. Di taman setiap keraton
    selalu ada patung macan sebagai perlambang dari Prabu Siliwangi,
    tokoh sentral terbentuknya Cirebon.
    Satu lagi yang menjadi ciri utama adalah piring-piring porselen asli
    Tiongkok yang menjadi penghias dinding semua keraton di Cirebon. Tak
    cuma di keraton, piring-piring keramik itu bertebaran hampir di
    seluruh situs bersejarah di Cirebon.
    Keraton Kacirebonan juga menghadap ke utara. Namun, masjid sebagai
    simbol ketaatan penghuni keraton pada agama Islam tak terlihat
    menjadi bagian dari keraton itu sendiri. Masjidnya kecil dan nyaris
    tak terawat. Alun-alun pun hanya berupa hamparan tanah merah yang
    tak jelas fungsinya.
    Yang mengagetkan, aset-aset Keraton Kacirebonan banyak yang sudah
    tak jelas nasibnya. Bagian-bagian ruangan keraton pun sudah
    ”diambil-alih” oleh sanak famili dari Abdul Gani Natadiningrat,
    Sultan yang terakhir.
    Kursi-kursi tua yang sangat khas malah teronggok tak berdaya di
    sebuah sudut kamar yang rupanya bekas kamar mandi umum untuk
    wisatawan. Satu benda bersejarah yang berumur sekitar 100 tahun dan
    masih terpelihara dengan rapih adalah kursi pelaminan yang biasa
    dipakai para sultan.
    Patung macan sebagai perlambang Prabu Siliwangi malah hampir-hampir
    tak terlihat karena tak terawat dan tertutup semak-semak.

    Kasepuhan
    Kelusuhan yang tampak di Keraton Kacirebonan barangkali memang
    merupakan konsekuensi sejarah. Namun, kesuraman itu tak tampak di
    Keraton Kasepuhan. Dari ketiga keraton yang ada di Cirebon,
    Kasepuhan adalah keraton yang paling terawat, paling megah, dan
    paling bermakna dalam. Tembok yang mengelilingi keraton terbuat dari
    bata merah khas arsitektur Jawa.
    Keraton Kasepuhan yang dibangun sekitar tahun 1529 sebagai perluasan
    dari Keraton tertua di Cirebon, Pakungwati, yang dibangun oleh
    Pangeran Cakrabuana, pendiri Cirebon pada 1445. Keraton Pakungwati
    terletak di belakang Keraton Kasepuhan.
    Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang ada dalam kompleks Keraton
    Kasepuhan begitu indah. Masjid Agung itu berdiri pada tahun 1549.
    Keraton ini juga memiliki kereta yang dikeramatkan, Kereta Singa
    Barong. Pada tahun 1942, kereta ini tidak boleh dipergunakan lagi,
    dan hanya dikeluarkan pada tiap 1 Syawal untuk dimandikan.
    Penguasa pertama di Keraton Kasepuhan adalah Syech Syarief
    Hidayattulah. Syarief Hidayattulah dikenal juga dengan Sunan Gunung
    Jati. Dari tokoh inilah, kisah tentang daerah bernama Cirebon itu
    bergulir.

    Kanoman
    Keraton Kanoman memang berumur lebih muda dari Kasepuhan. Kanoman
    berasal dari kata ”anom” yang bermakna ”muda”. Terbelahnya kekuasaan
    Keraton di Cirebon berawal dari sebuah kisah nan unik namun tanpa
    darah.
    Pada tahun 1662, Amangkurat I mengundang Panembahan Adiningkusumah
    untuk datang ke Mataram di samping untuk menghormatinya juga
    mempertanggungjawabkan sikapnya terhadap Banten dan juga Mataram.
    Disertai oleh kedua orang putranya, Pangeran Martawijaya dan
    Pangeran Kartawijaya, ia memenuhi undangan tersebut.
    Namun, setelah upacara penghormatan selesai, mereka tidak
    diperkenankan kembali ke Cirebon, melainkan harus tetap tinggal di
    Ibu Kota Mataram dan diberi tempat kediaman yang layak serta tetap
    diakui sebagai penguasa Cirebon.
    Sejak Panembahan Girilaya dan kedua putranya berada di Ibu Kota
    Mataram, pemerintahan sehari-hari di Cirebon dilaksanakan oleh
    Pangeran Wangsakerta yang tidak ikut ke Mataram antara tahun
    1662-1667. Berkat usaha Pangeran Wangsakerta dibantu Sultan Ageng
    Tirtayasa dari Banten, kedua Pangeran Cirebon dapat pergi dari
    Mataram dan kembali ke Cirebon melalui Banten.
    Tatkala Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya berada di
    Banten, Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat kedua Pangeran itu sebagai
    sultan di Cirebon dan menetapkan pembagian wilayah serta rakyat
    masing-masing.
    Pangeran Martawijaya menjadi Sultan Sepuh yang berkuasa di Keraton
    Kasepuhan dan Pangeran Kartawijaya sebagai Sultan Anom yang berkuasa
    di Keraton Kanoman. Adapun Pangeran Wangsakerta diangkat menjadi
    Panembahan Cirebon, tetapi tidak memiliki wilayah kekuasaan dan
    keraton secara formal.
    Keraton Kanoman menyimpan kembaran dari Kereta Singa Barong yang ada
    di Kasepuhan bernama Paksi Naga Liman. Satu hal yang begitu membuat
    hati miris, kompleks keraton telah tertutup oleh pasar rakyat yang
    sebetulnya menjadi bagian dari keraton itu sendiri.

    Keramik Cina
    Alkisah, seorang raja Cina mengundang Sunan Gunung Jati alias Syech
    Syarief Hidayatullah datang untuk menguji kesaktian san sunan. Oleh
    raja, Sunan diminta untuk menebak apakah anaknya Tan Hong Tien Nio
    yang populer dengan sebutan Putri Ong Tien hamil atau tidak. Sunan
    menebak sang putri hamil, padahal perut sang putir sengaja diisi
    tempat beras agar kelihatan hamil.
    Sunan Gunung Jati ditertawakan oleh para pembesar raja. Namun,
    ternyata sang putri benar-benar hamil.
    Untuk menghindari malu, Putri Ong Tien pun dikawinkan oleh raja
    dengan Sunan Gunung Jati. Rombongan besar pengantin datang dari Cina
    ke Cirebon dengan membawa keramik, porselen, piring, dan
    barang-barang khas Cina lainnya.
    Kisah ini tak jelas kebenarannya. Yang jelas, kisah ini menuturkan
    persentuhan budaya antara Islam dan Cina. Makam Putri Ong Tien pun
    bisa dijumpai di sisi makam Sunan Gunung Jati.
    Semua situs bersejarah di Cirebon, dari ketiga keraton, kompleks
    makam Sunan Gunung Jati, masjid-masjid agung, sampai tempat
    pemandian Sunyaragi memiliki ornamen utama berupa porselen asal
    Cina.
    Sekali lagi sayang, tangan-tangan jahil mencopoti porselen-porselen
    yang menghiasi dinding-dinding di setiap bangunan bersejarah. (*)
     

    Sepintas Sejarah Kabupaten Cirebon

    Amril Taufik Gobel — June 26, 2008 / 5:39 pm

    Topik: Sejarah

    Kelahiran Kabupaten Cirebon ternyata melalui sejarah berliku serta sejumlah kisah-kisah menarik dibaliknya. Dibawah ini sekilas sejarah Kabupaten Cirebon yang bahannya saya kutip dari sini.

    Mengawali cerita sejarah ini sebagai Purwadaksina, Purwa Kawitan Daksina Kawekasan, tersebutlah kerajaan besar di kawasan barat pulau Jawa PAKUAN PAJAJARAN yang Gemah Ripah Repeh Rapih Loh Jinawi Subur Kang Sarwa Tinandur Murah Kang Sarwa Tinuku, Kaloka Murah Sandang Pangan Lan Aman Tentrem Kawontenanipun. Dengan Rajanya JAYA DEWATA bergelar SRI BADUGA MAHARAJA PRABU SILIWANGI Raja Agung, Punjuling Papak, Ugi Sakti Madraguna, Teguh Totosane Bojona Kulit Mboten Tedas Tapak Paluneng Pande, Dihormati, disanjung Puja rakyatnya dan disegani oleh lawan-lawannya.

    Raja Jaya Dewata menikah dengan Nyai Subang Larang dikarunia 2 (dua) orang putra dan seorang putri, Pangeran Walangsungsang yang lahir pertama tahun 1423 Masehi, kedua Nyai Lara Santang lahir tahun 1426 Masehi. Sedangkan Putra yang ketiga Raja Sengara lahir tahun 1428 Masehi. Pada tahun 1442 Masehi Pangeran Walangsungsang menikah dengan Nyai Endang Geulis Putri Ki Gedheng Danu Warsih dari Pertapaan Gunung Mara Api.

    Mereka singgah di beberapa petapaan antara lain petapaan Ciangkup di desa Panongan (Sedong), Petapaan Gunung Kumbang di daerah Tegal dan Petapaan Gunung Cangak di desa Mundu Mesigit, yang terakhir sampe ke Gunung Amparan Jati dan disanalah bertemu dengan Syekh Datuk Kahfi yang berasal dari kerajaan Parsi. Ia adalah seorang Guru Agama Islam yang luhur ilmu dan budi pekertinya. Pangeran Walangsungsang beserta adiknya Nyai Lara Santang dan istrinya Nyai Endang Geulis berguru Agama Islam kepada Syekh Nur Jati dan menetap bersama Ki Gedheng Danusela adik Ki Gedheng Danuwarsih. Oleh Syekh Nur Jati, Pangeran Walangsungsang diberi nama Somadullah dan diminta untuk membuka hutan di pinggir Pantai Sebelah Tenggara Gunung Jati (Lemahwungkuk sekarang). Maka sejak itu berdirilah Dukuh Tegal Alang-Alang yang kemudian diberi nama Desa Caruban (Campuran) yang semakin lama menjadi ramai dikunjungi dan dihuni oleh berbagai suku bangsa untuk berdagang, bertani dan mencari ikan di laut.

    Danusela (Ki Gedheng Alang-Alang) oleh masyarakat dipilih sebagai Kuwu yang pertama dan setelah meninggal pada tahun 1447 Masehi digantikan oleh Pangeran Walangsungsang sebagai Kuwu Carbon yang kedua bergelar Pangeran Cakrabuana. Atas petunjuk Syekh Nur Jati, Pangeran Walangsungsang dan Nyai Lara Santang menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah.

    Pangeran Walangsungsang mendapat gelar Haji Abdullah Iman dan adiknya Nyai Lara Santang mendapat gelar Hajah Sarifah Mudaim, kemudian menikah dengan seorang Raja Mesir bernama Syarif Abullah. Dari hasil perkawinannya dikaruniai 2 (dua) orang putra, yaitu Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Sekembalinya dari Mekah, Pangeran Cakrabuana mendirikan Tajug dan Rumah Besar yang diberi nama Jelagrahan, yang kemudian dikembangkan menjadi Keraton Pakungwati (Keraton Kasepuhan sekarang) sebagai tempat kediaman bersama Putri Kinasih Nyai Pakungwati. Stelah Kakek Pangeran Cakrabuana Jumajan Jati Wafat, maka Keratuan di Singapura tidak dilanjutkan (Singapura terletak + 14 Km sebelah Utara Pesarean Sunan Gunung Jati) tetapi harta peninggalannya digunakan untuk bangunan Keraton Pakungwati dan juga membentuk prajurit dengan nama Dalem Agung Nyi Mas Pakungwati. Prabu Siliwangi melalui utusannya, Tumenggung Jagabaya dan Raja Sengara (adik Pangeran Walangsungsang), mengakat Pangeran Carkrabuana menjadi Tumenggung dengan Gelar Sri Mangana.

    Pada Tahun 1470 Masehi Syarif Hiyatullah setelah berguru di Mekah, Bagdad, Campa dan Samudra Pasai, datang ke Pulau Jawa, mula-mula tiba di Banten kemudian Jawa Timur dan mendapat kesempatan untuk bermusyawarah dengan para wali yang dipimpin oleh Sunan Ampel. Musyawarah tersebut menghasilkansuatu lembaga yang bergerak dalam penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa dengan nama Wali Sanga.

    Sebagai anggota dari lembaga tersebut, Syarif Hidayatullah datang ke Carbon untuk menemui Uwaknya, Tumenggung Sri Mangana (Pangeran Walangsungsang) untuk mengajarkan Agama Islam di daerah Carbon dan sekitarnya, maka didirikanlah sebuah padepokan yang disebut pekikiran (di Gunung Sembung sekarang)

    Setelah Suna Ampel wafat tahun 1478 Masehi, maka dalam musyawarah Wali Sanga di Tuban, Syarif Hidayatullah ditunjuk untuk menggantikan pimpinan Wali Sanga. Akhirnya pusat kegiatan Wali Sanga dipindahkan dari Tuban ke Gunung Sembung di Carbon yang kemudian disebut puser bumi sebagai pusat kegiatan keagamaan, sedangkan sebagai pusat pemerintahan Kesulatan Cirebon berkedudukan di Keraton Pakungwati dengan sebutan GERAGE. Pada Tahun 1479 Masehi, Syarif Hidayatullah yang lebih kondang dengan sebutan Pangeran Sunan Gunung Jati menikah dengan Nyi Mas Pakungwati Putri Pangeran Cakrabuana dari Nyai Mas Endang Geulis. Sejak saat itu Pangeran Syarif Hidayatullah dinobatkan sebagai Sultan Carbon I dan menetap di Keraton Pakungwati.

    Sebagaimana lazimnya yang selalu dilakukan oleh Pangeran Cakrabuana mengirim upeti ke Pakuan Pajajaran, maka pada tahun 1482 Masehi setelah Syarif Hidayatullah diangkat menajdi Sulatan Carbon membuat maklumat kepada Raja Pakuan Pajajaran PRABU SILIWANGI untuk tidak mengirim upeti lagi karena Kesultanan Cirebon sudah menjadi Negara yang Merdeka. Selain hal tersebut Pangeran Syarif Hidayatullah melalui lembaga Wali Sanga rela berulangkali memohon Raja Pajajaran untuk berkenan memeluk Agama Islam tetapi tidak berhasil. Itulah penyebab yang utama mengapa Pangeran Syarif Hidayatullah menyatakan Cirebon sebagai Negara Merdeka lepas dari kekuasaan Pakuan Pajajaran.

    Peristiwa merdekanya Cirebon keluar dari kekuasaan Pajajaran tersebut, dicatat dalam sejarah tanggal Dwa Dasi Sukla Pakca Cetra Masa Sahasra Patangatus Papat Ikang Sakakala, bertepatan dengan 12 Shafar 887 Hijiriah atau 2 April 1482 Masehi yang sekarang diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Cirebon.

  • Arsip Berita

  • Admin Area

  • Berita MEDIA

  • Meta

  • Menampilkan Jam Analog di Website
  • COPC CIREBON
  • Blog Atho's
  • Ilmu Komputer
  • Pemrograman VB 6.0
  • Software Gratis
  • Facebook
  • Friendster
  • RSS


  • Kapanlagi.com Film


  • KapanLagi.com Image Hosting

  • Komentar

  • Gabung Yuk

    Profil
    Profil Facebook Sukarto Atho
    Buat Lencana Anda

    Free Domain

    CO.CC:Free Domain

    LINK =>>>>>>>>>>>>>>>

  • LOWONGAN KERJA
  • INFORMASI BEASISWA
  • DOWNLOAD VIA E-MAIL
  • Big Money List
  • Links:

    Game Online Gratis
    Free Mobile Contents
    Game Gratis
    Movie Trailers
    best online casino
    Best 10 Online Casinos

    Michael Heart - We Will Not Go Down (Song for Gaza)
    - Download MP3
    - Video Clip dan Lirik
    free counters

    %d blogger menyukai ini: